Padang padang beach, Bali (Taken with Instagram)

Padang padang beach, Bali (Taken with Instagram)

inqrid:

Surfing at Kuta Beach Bali.

inqrid:

Surfing at Kuta Beach Bali.

Reblogged from INGRID KJELLING
inqrid:

Nusa Lembongan sunset

inqrid:

Nusa Lembongan sunset

Reblogged from INGRID KJELLING
Reblogged from INGRID KJELLING
Padang Padang Beach, Pecatu
Bali - Indonesia.

Padang Padang Beach, Pecatu

Bali - Indonesia.

Sunny day at Suluban Beach, Bali - Indonesia

Sunny day at Suluban Beach, Bali - Indonesia

Sunset at Jimbaran Beach, Bali - Indonesia

Sunset at Jimbaran Beach, Bali - Indonesia

Amateur Scuba Diving

Dari dulu saya sering ngeliat si Riyanti Jangkaru (presenter Jejak Petualang) diving disuatu tempat saya pasti langsung kepengen. Entah kenapa pokoknya saya melihat hal itu (diving) sangat keren. Saya kemudian bertanya-tanya pada diri saya “kapan ya bisa diving di laut kaya gitu?” atau at least snorkeling lah walaupun saya gak pinter-penter amat berenang.

Baru-baru ini saya diajak ke Bali sama kakak saya. Olah raga air yang pertama kali terpikir oleh saya adalah snorkeling. Saya diajak ke Tanjung Benoa (nusa dua) dimana disitu merupakan tempat olahraga air yang sangat popular. Tiba lah saya disalah satu operator wisata. Karena saya bersama keluarga tentunya kepentingan keluraga dulu lah yang didahulukan. Akhirnya kami naik glass bottom boat yang bisa liat ikan dibawah perahu. Kemudian dilanjutkan ke pulau penyu. Setelah rangkaian trip usai, saya minta dibayarin snorkeling sama kakak saya karena harganya mahal ternyata. Ini kesempatan saya dapet gratisan karena saya ke Bali semuanya ditanggung oleh kakak saya. Yeah! Setelah agak begging dikit, berhasil lah saya. Tapi tunggu dulu, ternyata kata mas-masnya kita bisa dapet diving dengan harga snorkeling. Tanpa pikir panjang langsung ganti pilihan jadi scuba diving.

Hal pertama yang dilakukan sebelum scuba diving adalah memilih peralatan dan baju diving yang sesuai dengan ukuran kita. Peralatannya antara lain Baju selam, sepatu kodok, dan masker kacamata. Saya baru tahu bahwa kacamata (masker) diving ada yang bisa buat para penderita rabun jauh (minus) jadi saya meminta kacamata yang minus 4.

Kemudian naiklah saya dan kakak saya ke kapal dan ternyata kami bersama serombongan (7 orang) turis korea. Sementara saya agak deg-degan, salah satu turis korea didepan saya malah asik menenggak bir, WTF?! Penjelasan mengenai aturan-aturan dan tata cara diving pun akhirnya menggunakan bahasa jepang oleh dive tutor-nya yang kemudian diterjemahkan kembali ke bahasa korea oleh salah satu dari rombongan korea itu. Saya dan kakak saya hanya bengong kaya orang bego ngeliatin dive tutor ngejelasin pake bahasa jepang. Ngeliat kami bengong roaming dengan bahasa jepang, salah satu tutor lainnya menjelaskan tata cara diving, bagaimana cara menghindari kuping sakit, bahasa isyarat, dll. Sialnya suara tutor kami kalah kenceng dengan suara ribut dari rombongan korea.

Sebelum kami turun ke laut. Kami diberi ikat pinggang yang berisi batu seberat 7 kg! agak meyakitkan karena badan saya kurus. Proses pemasangan ransel tabung oksigen dilaut langsung karena tabung tersebut memang cukup berat. Setelah tabung terpasang dan regulator sudah ada dimulut, kami disuruh berlatih bernafas lewat mulut. Awal-awalnya memang susah karena tidak terbiasa. Lama-kelamaan mulut pun akan menjadi kering dan kalau dirasa-rasa akan enek dan pengen muntah. Setelah hampir 20 menit berlatih barulah kami turun kedasar laut dengan kedalaman 5-9 meter. Hal yang pertama kali dirasakan saat baru turun adalah kuping akan terasa sakit dan kepala menjadi pusing. Kuping kanan saya sangat sakit ketika mencapai dasar laut. Cara untuk menghilangkan dengan menekan hidung pun tidak berhasil. Hampir saya mengisyaratkan kalau ada masalah dengan mengibaskan tangan kepada tutor. Sial ternyata dia tidak melihat isyarat saya dan terus menarik saya lebih dalam dan akhirnya menyuruh saya berpegangan pada batu karang untuk photo session. Sebenarnya saya sudah agak kalap karena kepala saya sakit apalagi kuping kanan saya. Kemudian saya disuruh mengeluarkan makanan ikan yang sudah diberikan sebelumya yaitu roti tawar. Seketika saya dikelilingi oleh ikan-ikan yang sepertinya kelaparan. Sakit di kuping saya sudah berangsur hilang. Visibility laut tanjung benoa saat itu cukup baik. Karang dan coralnya tidak banyak tetapi cukup lah.

Setelah hampir 30 menit didalam laut, kami naik kepermukaan dan menunggu giliran naik ke boat. Lutut saya terasa perih dan setelah dilihat ternyata tergores tajamnya karang. Masih untung mengingat ada yang kakinya tersengat binatang laut sampai bengkak.

Well, sebenarnya diving mengasyikan. Akan lebih mengasyikan kalau kita sebelum langsung scuba diving kita punya sertifikat scuba diving yang diberikan setelah biasanya seharian berlatih di kolam renang oleh kursus scuba diving. Overall, saya sedikit ketagihan ingin scuba diving lagi tetapi ditempat yang berbeda yang tentunya lebih bagus daripada sekedar di Tanjung Benoa.